Pages

Biota laut yang berbahaya


Biota berbahaya di laut from Yayasan TERANGI


sumber : http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=158%3Abiota-yang-berbahaya&catid=72%3Asains&Itemid=52&lang=id

Contoh Hal yang di Akibatkan Manusia Penyu Pariaman dan Biota Laut Lain Mati akibat POTASIUM

 

Metrotvnewsw.com, Pariaman: Sejumlah biota laut, termasuk satwa langka penyu hijau (chelonia mydas), di pesisir Kota Pariaman, Sumatra Barat, mati diduga akibat ulah nelayan yang menangkap ikan menggunakan racun potasium.

"Sejak beberapa waktu terakhir sering ditemukan bangkai penyu mati di kawasan laut dan pulau di Pariaman. Dugaan kuat karena racun potasium," kata Petugas Patroli Polisi Air Polres Pariaman Bripka Purba di Pariaman, Senin (11/2).

Ia mengatakan di Pariaman masih ada nelayan yang menggunakan racun potasium untuk menangkap ikan. namun belum diketahui apakah mereka nelayan lokal atau asal luar daerah. Namun menurut informasi yang ia himpun, kebanyakan dari Sibolga, Sumatra Utara.

Purba menjelaskan, biasanya penggunakan potasium membuat ikan-ikan tidak langsung mati. Diduga ikan yang terkena potasium itu dimakan oleh penyu sehingga penyu ikut keracunan.

Pada Minggu (10/2), seekor Penyu hijau dengan berat kira-kira 20 kilogram ditemukan mati terdampar di Pantai Pulau Ansoduo yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pariaman dengan kondisi kulit mengelupas. Setelah diperiksa, bangkai penyu tersebut selanjutnya dikuburkan di pantai itu.

Kasus matinya penyu tersebut telah dilaporkan petugas Pol Air kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pariaman. Purba menyatakan siap beker jasama dengan pihak DKP untuk melakukan pengawasan terhadap populasi penyu di perairan Pariaman.

Sementara itu, penjaga Pulau Ansoduo Abdul Rahman mengatakan aksi perburuan telur penyu di kawasan perairan Pariaman sangat marak. Menurutnya, pencari telur penyu itu tak segan-segan membunuh penyu untuk sekedar mendapatkan telurnya. (Ant/Pbu)

sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/11/3/130341/Penyu-Pariaman-dan-Biota-Laut-Lain-Mati-akibat-Potasium

Inilah 11 Spesies Baru Biota Laut

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam Indonesia (LIPI), Suharsono, di Jakarta, Senin (19/4/2010), memperkenalkan 11 nama spesies biota laut baru yang ditemukan di perairan Raja Ampat, Kepala Burung Papua Barat.
Kesebelas spesies baru tersebut adalah Hemiscyllium galei, atau hiu berjalan yang tampak seperti hiu kecil dengan warna bentol-bentol seperti tokek yang berjalan di dasar lautan. Ikan tersebut ditemukan oleh peneliti Australia, Allen dan Unmack pada 2008 dan namanya diambil dari nama Jeffrey Gale.
Hemiscyllium henryi, sejenis hiu berjalan yang mirip dengan Hemiscyllium galei namun berbeda bentuk corak dan warnanya dengan H.galei. Hiu berjalan tersebut ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama Wolcott Henry.
Melanotaenia synergos yang ditemukan Allen dan Unmarck pada 2008 yang namanya diambil dari nama Synergos Institute. Corythoichthys benedetto, sejenis kuda laut yang tampak seperti buaya yang sangat ramping. Ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama mantan perdana menteri Italia, Benedetto Craxi.
Pterois andover yang sejenis pterois berwarna merah yang ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 yang namanya diambil dari nama Sindhuchajana Sulistyo. Pseudanthias charlenae, ikan kecil berwarna merah muda cerah yang namanya diambil dari nama Pangeran Monaco, Albert II.
Pictichromus caitlinae sejenis ikan kecil berwarna cerah yang ditemukan Allen, Gill, dan Erdmann pada 2008 yang namanya diambil dari nama Caitlin Elizabeth Samuel, sebagai hadiah ulang tahun Caitlin dari orangtuanya, Kim Samuel Johnson.
Pseudochromus jace ikan kecil unik yang ditemukan Allen, Gill, dan Erdmann pada 2008 yang namanya merupakan singkatan dari nama Jonathan, Alex, Charlie, dan Emily, yang merupakan keempat anak Lisa dan Michael Anderson.
Chrysiptera giti, ikan kecil yang tampak berduri ditemukan oleh Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama perusahaan yang dimiliki Enki Tan dan Cherie Nursalim, yakni perusahaan GITI.
Paracheilinus nursalim, yang ditemukan Allen dan Erdmann pada 2008 dan namanya diambil dari nama Sjamsul dan Itjih Nursalim.

Pterocaesio monikae diambil dari nama Lady Monica Bacardi

Kesebelas nama spesies tersebut diberikan oleh para pemenang lelang dalam pelelangan "Blue Auction" yang digelar di Monaco. Disampaikan Suharsono, hasil lelang tersebut akan digunakan untuk memajukan ilmu penamaan spesies atau taksonomi di Indonesia. Penemuan spesies baru tersebut merupakan kerjasama LIPI dengan Conservation Internasional.


sumber :   http://sains.kompas.com/read/2010/04/19/13540514/Inilah.11.Spesies.Baru.Biota.Laut.

Biota Laut Terancam Punah

Biota Laut Terancam Punah

Biota Laut Terancam Punah

Topik

TEMPO.CO, Oslo - Biota laut tengah menghadapi masalah serius: kepunahan massal. Kombinasi dari temperatur tinggi, pengasaman, dan minimnya oksigen menjadi faktor mematikan yang menggerogoti kesehatan samudera. Kecepatannya melebihi perkiraan semula.

Berbagai bentuk kehidupan di laut berada dalam risiko kepunahan terburuk sepanjang masa. Sebuah studi mengungkapkan bahwa perubahan iklim dan penangkapan ikan secara berlebihan mengancam kehidupan berbagai organisme laut.

Studi yang dilakukan oleh International Programme on the State of the Ocean (IPSO) menunjukkan bahwa gangguan terhadap terumbu karang atau meluasnya "zona mati"--perairan yang memiliki kandungan oksigen amat rendah--sulit ditangani dalam waktu singkat.

Laporan tersebut menyatakan masalah yang disebabkan oleh pemanasan global dan berbagai faktor lain akan bertambah buruk bila seluruh faktor bergabung satu sama lain.

"Kita menghadapi punahnya beberapa spesies laut dan seluruh ekosistem laut, seperti terumbu karang dalam satu generasi," demikian isi laporan studi itu kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Laporan itu menyebutkan bahwa perubahan yang mempengaruhi sejumlah laut di berbagai belahan bumi terjadi jauh lebih cepat daripada skenario terburuk yang diprediksi dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan yang melibatkan 27 peneliti kelautan tersebut juga mengingatkan perlunya dunia segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Bila tidak segera diatasi, konsekuensi dari aktivitas manusia akan berisiko menyebabkan peristiwa kepunahan massal di laut melalui kombinasi efek perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan kerusakan habitat," kata para peneliti.

Mereka telah mendata lima kepunahan massal selama 600 juta tahun. Peristiwa terbaru adalah ketika dinosaurus menghilang dari muka bumi sekitar 65 juta tahun lampau yang diperkirakan akibat tumbukan asteroid. Periode Permian juga berakhir secara tiba-tiba pada 250 juta tahun silam.

"Penemuan ini sangat mengejutkan," kata Alex Rogers, Direktur Ilmiah IPSO, dalam kesimpulannya tentang hasil lokakarya para pakar kelautan 2011 yang digelar oleh IPSO dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) di Oxford University, Inggris.

Kepunahan massal organisme laut akan berdampak besar pada umat manusia. Ikan adalah sumber utama protein bagi seperlima populasi dunia. Laut juga membantu mendaur oksigen dan menyerap karbon dioksida, gas rumah kaca yang sebagian besar berasal dari aktivitas manusia.

Jelle Bijma, peneliti dari Alfred Wegener Institute, mengatakan laut menghadapi ancaman "trio mematikan", yaitu temperatur tinggi, pengasaman atau acidification, dan minimnya oksigen (anoxia). Ketiga faktor yang berbahaya bagi kesehatan laut itu terlibat dalam beberapa kepunahan massal sebelumnya.

Penumpukan karbon dioksida dari bahan bakar fosil dituding oleh panel ilmuwan iklim PBB sebagai penyebab pemanasan global. Gas rumah kaca itu diserap oleh laut dan memicu terjadinya pengasaman air laut. Sementara, polusi dan sisa pupuk yang terbawa sungai ke samudera menyebabkan anoxia yang memicu terjadinya "zona mati".

"Dari sudut pandang geologi, kepunahan massal terjadi hanya dalam waktu semalam. Namun, dalam skala waktu manusia, kita mungkin tidak menyadari sedang berada di tengah-tengah peristiwa tersebut," kata Bijma.

Studi mengatakan bahwa tindakan yang paling mudah dilakukan oleh berbagai negara untuk memutarbalikkan kondisi itu adalah membatasi penangkapan ikan. Pemerintah di tiap negara juga harus segera menekan laju pemanasan global dengan beralih dari bahan bakar fosil, misalnya, ke energi yang lebih bersih, seperti tenaga surya dan angin.

"Berbeda dengan perubahan iklim, hal ini dapat langsung ditanggulangi dengan cepat dan efektif oleh perubahan kebijakan," kata William Cheung dari University of East Anglia. "Penangkapan ikan secara berlebihan diperkirakan bertanggung jawab atas lebih dari 60 persen kepunahan spesies ikan laut, baik lokal maupun global."

Salah satu spesies ikan yang menjadi korban penangkapan ikan tak terkendali adalah ikan bahaba Cina, yang dapat tumbuh sepanjang 2 meter. Harga 1 kilogram gelembung renangnya, yang dipercaya memiliki khasiat obat, naik dari beberapa dolar saja pada 1930-an menjadi US$ 20-70 ribu.

Kombinasi berbagai masalah itu menunjukkan bahwa kematian spesies laut di seluruh dunia yang akan terjadi dalam waktu dekat ini akan menyaingi kepunahan massal di masa lalu.

"Kematian terumbu karang saja sudah dapat dianggap sebagai kepunahan massal," kata Alex Rogers, yang juga peneliti dari University of Oxford. Sebuah peristiwa bleaching pada 1998 membunuh seperenam terumbu karang tropis dunia. Kematian karang berumur 1.000 tahun di Samudera Hindia itu sangat tak terduga.

Sebuah studi berbeda yang dirilis pekan lalu juga memaparkan dengan detail tentang kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global. Studi itu menemukan bahwa permukaan samudera dunia naik secara signifikan selama satu abad terakhir.

http://www.tempo.co/read/news/2011/07/01/095344193/Biota-Laut-Terancam-Punah

Pemutihan Karang ancam BIOTA LAUT

sumber :http://www.tempo.co/read/video/2011/06/27/327/Pemutihan-Karang-Ancam-Biota-Laut

Jenis-Jenis Biota Laut

Jenis-Jenis Biota Laut:
1. Terumbu Karang
Terumbu karang adalah kumpulan koral atau karang laut yang berada diwilayah lautanj yang hangat dan terkena cahaya matahari.
 2. Karang Laut
Karng laut merupakan hewan yang tidak suka berpindah tempat atau biasa disebut koral.

Cassis Cornuta
Charonia Tritonis


Koral



3. Hewan dan Tumbuhan Laut


1.    Planktonik, yaitu biota yang melayang-layang, mengapung dan bergerak mengikuti arus. Jenis ini umumnya ditemukan di kolom permukaan air. Terbagi menjadi 2 yaitu Fitoplankton (plankton tumbuhan) seperti alga biru dan doniflegellata, dan Zooplankton (plankton hewan) misalnya lucifer, udang rebon, ostracoda dan cladocera.
2.   Nektonik, yaitu biota yang berenang-renang umumnya dapat melawan arus (terdiri dari hewan saja). Contohnya adalah ikan, ubur-ubur, cumi-cumi dan lain-lain.
3. Bentik, yaitu biota yang hidup di dasar atau dalam substrat, baik tumbuhan maupun hewan. Terbagi menjadi 3 macam yaitu 1) menempel (sponge, teritip, tiram dan lainnya); 2) merayap (kepiting, udang karang dan lain-lain) dan 3) meliang (cacing, karang dan lain-lain).




Cara Merawat Biota Laut

Teman-teman sudah pada tahu belum cara merawat biota laut kita agar tetap lestari ?  Selain reuse, reduce, recycle, ada lagi nih hal-hal simple yang bias kita lakukan, yaitu:
    1. Tidak membuang sampah ketika sedang berada di perairan
    1. Memastikan bahwa peralatan memancing tidak tertinggal di perairan
    2. Tidak menginjak, mengukir atau membawa pulang biota laut untuk dijadikan hiasan
http://static.republika.co.id/uploads/images/inline/27_snorkling.jpg




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtcU5RjcLRKjP7ZH2EQRuIGjQcztExq3MKVPVLVykUA8vj9zMalJFwwn-zBhVRdkJNT-BD6L_3W1vI2diFoCNIFdCA3naH5N3Tue664KuHuodDAd6-3c4OY0yY7aBTWP6rGp7cRNxlFC0/s320/pelestarian+laut.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjECYYWfxDpahSMBe7vhh5slmlfX9TG_TKzY0ohIn1GBA3nKZTCWzk7I5bhi9hySBX0HpSp12wHvJMk_NjUrcgWXSFOF-hhnw4MNOboi3xMf2qprmfzYl0z0ngryILlR-EKZ2geNBlkJ2c/s320/transpalansi-karang-sanur-02.jpg

Nah caranya Mudah kan jadi mudahkan jadi Mulai sekarang Ayo lestarikan Biota Laut


sumber :http://anne-manopo.blogspot.com/2012_05_01_archive.html